TOMORROW IS NATIONAL EXAM for JUNIOR HIGH SCHOOL ALL AROUND IN INDONESIA!

Like an Origami

Hidup itu seperti sebuah kertas lipat,

butuh lipatan-lipatan rumit untuk menjadikannya sesuatu.

Burung? Perahu? Kincir?

Kau bisa membuat apa pun yang kau mau..

Dan saat bentuk yang kau punya mulai rusak, kau selalu bisa kembali ke awal.

Sekusut apa pun kertas itu sekarang,

Sebanyak apa pun bekas lipatan yang masih nampak disana,

Kau masih tetap bisa membuat sebuah bentuk yang baru untuk hidupmu..

####

(2012, February 29th. Seoul..)

Sinar matahari menyapa kasar dari sela korden jendela berwarna abu-abu. Membuat Park Jung Young menggeliat bangun di ranjangnya. Merasa terganggu. Masih dengan terkantuk, tangannya terulur, meraba-raba meja kecil di samping ranjang, mencoba meraih jam weker pikachunya. Tapi nihil. Tak ada. Jung Young menjeblak selimut yang mengurungi tubuhnya, menguap pelan. Ia mengucek-ngucek matanya sebentar sambil beralih bangkit dan mendudukkan diri di tepi ranjang..

“Yongie?” gumamnya, sedikit bingung karena saat ia membuka mata, yang terlihat pertama kali adalah sebuah potret blackwhite Jung Daehyun yang tergantung di dinding.

Perlu waktu beberapa saat hingga kemudian gadis itu menyadari bahwa ini bukan kamarnya, tapi kamar Daehyun dan Yongjae. Jung Young terkekeh kecil sambil menggaruk-garuk pipinya. Sedikit menggelikan mengingat ini kali pertamanya ia tidur di ranjang seorang pria selain Key dan Taecyeon. Dan bagaimana bisa ia lupa bahwa tadi malam ia menginap disini? Menginap karena sebuah kejadian tak terduga yang mengingatkannya pada pria itu..

“Taichi..” desahnya, lalu tersenyum. Sebuah senyum absurd tanpa artian yang jelas. Sebuah senyum yang seolah meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia baik-baik saja.

Jung Young beranjak bangkit, kemudian berjalan kearah sebuah jendela berkorden abu-abu di dekat lemari. Perlahan, ia menyingkap korden jendela, agak tersentak saat menemukan sesuatu yang menggantung manis di teralis besi. Sebuah boneka kertas yang tersenyum menyambutnya di hari yang nampak cerah. Teru-teru bozu… Sebuah Origami teru-teru bozu..

“Ahhh… Kyeopta..”

Tangannya mulai iseng memainkan origami boneka penangkal hujan khas Jepang itu, menggoyang-goyangkannya. Terus menggoyang-goyangkannya dengan gemas hingga segulung kertas kecil terjatuh dari dalam lipatan boneka kertas itu. Jung Young memungutnya dengan cepat. Apa ini? Sebuah pesan dari origami teru-teru bozu?

Untuk kali ini, aku membiarkan hujan tak turun.

Tapi untuk lain waktu, aku ingin kau tersenyum saat hujan datang.

Kau tau? Hujan tak hanya tentang langit mendung yang abu-abu.

Di balik sana, ada selengkung pelangi indah yang menyimpan banyak kisah,

andai saja kau mau melihatnya…”

Jung Young lagi-lagi tersenyum. Entah sudah berapa banyak senyum yang diulaskannya sejak terbangun beberapa saat lalu. Senyum untuk seseorang yang tanpa ia sadari mulai mengisi sebuah tempat kecil di hatinya. Jung Young menghela nafas, dipandanginya lagi sederet tulisan manis di atas kertas itu, lalu menggumam, sedikit pias..

“Sayangnya aku tidak yakin apa aku bisa menyingkirkan langit mendung diatas sana..”

***

trreett… trett…’

Ponsel berwarna putih itu bergetar di samping dispenser. Zelo buru-buru meraihnya sambil kemudian melompat duduk keatas sofa. Dibukanya sebuah pesan singkat yang masuk, kemudian memutar pandang kearah pintu kamar Daehyun yang masih juga belum terbuka sejak tadi pagi, “Dia belum bangun? Ya Tuhan… ini sudah hampir jam 10..”

“Memangnya kenapa kalau sudah jam 10?” sahut Himchan, masih tengkurap di lantai dengan beragam majalah berserakan di sekitarnya.

“O~” Jong Up yang sedari tadi hanya berguling-guling di lantai pun menghentikan aktifitas anehnya itu dan ikut menimpali, “Kau sendiri bahkan bisa tidur seharian saat kita tidak ada schedule kan, KIM HIMCHAN??”

Yongguk tergelak tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer dan joysticknya. Mendengar Zelo memanggil sang leader dengan panggilan aneh dari Jung Young itu terasa amat menggelikan.

Yongguk mendengus, menghempaskan punggungya, “Aishh.. Taec hyung bilang dia akan menjemput Jung Young. Tidak lucu jika-”

“Dia akan bangun sebentar lagi..” potong Daehyun. Ia selesai dengan kentang gorengnya dan menaruh makanan itu di atas meja dapur.

“Gadis cablak itu? Sebentar lagi?” dahi Yongguk berkerut ragu, “Apa kau yak-”

……………………..

“Hoaamhh… Aku baru saja bangun, dan aku lapar..”

……………………..

Keenamnya menoleh. Jung Young, dengan sweater putih bergambar singa –yang terlihat agak kebesaran di tubuhnya, muncul dari pintu kamar yang menjeblak terbuka. Masih menguap, ia mengangkat tinggi rambutnya dan mengikatnya keatas dengan asal-asalan.

“Wooaahhh… JUNG DAEHYUN Daebak!” pekik Youngjae.

“Benar-benar tepat..” decak Zelo.

Yongguk bahkan mem-paus games mereka, mengagguk-angguk setuju. Lalu tersenyum penuh arti, entah dia memegang posisi apa dalam kisah ini, tapi yang jelas ia selalu senang saat dua orang aneh itu mulai menunjukan… eung… ikatan batin? Entahlah..

“Heh?” Jung Young berjengit bingung.

Gadis itu mendengus, ia beralih pada sosok Daehyun yang sedang berkutat di dapur, kemudian berjalan mendekat, “Hyunie~ apa kau mengatakan pada mereka bahwa aku akan terlihat jelek saat bangun tidur?” tanyanya, asal, yang langsung disambut dengan kekehan kecil dan jitakan dari Daehyun.

“Paboya!”

Jung Young merengut. Ia memutar matanya, mencoba menahan senyum. Hingga pandangannya lalu menangkap sesuatu di atas meja dapur yang mengundang selera. Sepiring kentang goreng! Jung Young tersenyum sumringah. Ia baru saja hendak mencomot sebatang saat seseorang tiba-tiba memukul tangannya,

“Yak! Kau baru bangun tidur dan mau langsung makan?” tegur Himchan.

Jung Young menoleh sinis, “Waey? Aku tamu disini! Dan kalian bahkan belum memberiku makan sejak kemarin. Sekarang sudah pagi, aku lapar, dan kau tidak membiarkanku makan? Aishh… tuan rumah macam apa kau, KIM HIMCHAN OPPA?”

“Aku saja belum makan, dan-”

“YA! Demi Shinee yang akan comeback bulan depan! Orang-orang tua di Incheon bahkan mempersilahkan anak perempuan untuk makan lebih dulu!”  (?)

Himchan mendesis memanyunkan mulutnya, “Huh??! Aku bukan orang-orang tua Incheon!”

“Berarti kau harus belajar dari orang-orang tua!”

Sementara Yongguk dengan kompak memutar posisi tengkurap mereka di lantai, keduanya menopang dagu sambil terkekeh menikmati pemandangan ‘hiburan’ di dapur, “Lama tidak melihat yang seperti ini..”

Pertengkaran aneh antara kedua ‘sahabat’ ini pun kembali berlanjut. Dengan mengatasnamakan Incheon dan orang-orang tua, belum juga ada yang mau mengalah setelah beberapa menit. Hingga kemudian..

“Mrs.Coffee..” Daehyun memotong, ia menepuk-nepuk kepala Jung Young dengan sebuah handuk kecil dan baju ganti, “Mandi dan ganti bajumu dulu. Arraseo?”

Jung Young mengambil lipatan handuk dan baju yang menutupi kepalanya itu, “Arra..”, ia menoleh, menggembungkan pipinya sekilas saat bertatapan denganDaehyun, kemudian berlalu pergi menuju kamar mandi.

“Hanya begitu saja?” Zelo menganga, shock. Jongup di sebelahnya hanya memandang takjub.

Sedang Kim Himchan mematung di tempat. Ia menatap Daehyun lamat-lamat. Sinis. Dingin. Mulai mencair. Hingga akhirnya visual BAP itu malah tersenyum aneh, ia melempar tatapan pada Zelo dan Jong Up yang kemudian mengangguk paham dan ikut tersenyum lebar. Ketiganya memasang eagyo dan mulai menggoda Main Vocal BAP itu..

“Aiggoo… Uri Daehyunie~”

Yang langsung disambut dengan amukan Daehyun berserta sapu, sulak, dan kain pel yang kemudian menyusul melayang, “Yak! Daripada memamerkan aegyo aneh yang membuat mual itu, lebih baik kalian bantu aku beres-beres!”

………………..

Sementara di dalam kamar mandi, Jung Young tersenyum kecil melihat sesuatu menyambutnya di atas wastafel yang penuh air. Sebuah perahu kertas berwarna ungu, tampak mengapung disana. Mengapung dengan selinting kertas kecil di dalamnya. Jung Young terkekeh, another Origami’s message?

Cepat ambil! Mungkin terlihat kuat, tapi ini hanya perahu kertas yang mudah rapuh. Maka cepat selamatkan dia sebelum dia rusak dan tenggelam.

P.S: Selamatkan juga hatimu, karena hatimu sama seperti perahu kertas itu.. ”

teesss….’

Jung Young buru-buru menyeka air matanya saat sadar setetes cairan bening itu mulai jatuh membasahi kertas yang ia pegang. Sepasang manik matanya lalu beralih lagi pada perahu kertas yang masih mengapung di dalam wastafel, “Kenapa kau selalu bisa tau?”

Ia menekan dada kirinya saat merasakan lubang hatinya disana kembali bergerak, “Apa kau memasang alat sadap disini? Tidakkah itu begitu curang?”

***

“Otthoke?”

Dan lagi-lagi keempat pasang mata di ruang tengah kembali menoleh. -Empat? Ya, hanya empat. Yongguk sudah terlalu ‘gila’ dengan pertarungan games mereka- . Jung Young keluar dari kamar mandi dengan tampang lebih segar kali ini. Gadis itu mengenakan kaos gradasi biru laut milik Daehyun yang ‘seharusnya’ kebesaran di tubuhnya. Tapi… ia menjepit bagian leher yang lebar dengan sebuah pin putih polos, dan mengikat ujung bawah kaos itu ke samping hingga terlihat manis.

Cerdik? Tentu saja.

Inilah bentuk simple fashionable maknae MISS-U.

Young Jae menyangga dagunya dengan gagang sapu, matanya yang hanya segaris itu seolah hilang saat ia tersenyum, “Kyeopta…”

Jung Young tersenyum canggung,

“Ya! Jung Young, kau tersenyum begitu karena Youngjae mengataimu manis atau karena kau memakai baju Daehyun?” Himchan tertawa puas melihat ekspresi sahabatnya itu.

“Yaishh… kau benar-benar!”

“Mwo? Tampan?”

Jung Young menyipitkan matanya, “Terserah kau saja..”

“Ya! Apa susahnya memuji sahabatmu sendiri ini tampan?”

“…………..”

Malas mengacuhkan ‘Buckaroonya’, Jung Young beralih pada meja dapur. Berada dalam petak yang sama dengan Daehyun entah kenapa membuat gadis itu merasa nyaman. Ahh.. tunggu? Apa yang dipikirkannya barusan? Tidak! Tidak! Jung Young hanya ingin menyantap kentang goreng, itu saja. Ya, itu saja yang masih mampu diakuinya saat ini.

Gadis itu mulai mencomot sebatang kentang goreng, memasukkannya kedalam mulut. Dan saat ia hendak mengambil lagi, tangannya tertahan saat melihat sebuah burung kertas kecil di samping piring, ada satu pesan kecil yang tertempel manis di paruhnya, membuatnya Jung Young lagi-lagi tersenyum..

Kajja! Makan yang banyak, atau burung kecil ini akan menyantap semua jatah kentang gorengmu… :)

“Baiklah! Aku akan makan banyak!” putusnya yang langsung mendapat kekehan kecil Daehyun dari arah wastafel.

Jung Young ikut terkekeh, kemudian beralih membuka kulkas. Diambilnya sebotol coca cola dingin dari dalam sana, ia lalu mendekat kerah Daehyun yang masih tampak sibuk mencuci piring dan cangkir-cangkir kotor di wastafel.

“Mrs.Cola~” panggilnya.

“Eung?”

Jung Young menyodorkan mulut botol plastik di tangannya itu. Daehyun mengapit dengan mulut dan mulai menengguk cola yang dipegangkan Jung Young untuknya. Manis sekali. Daehyun nyaris menengguk setengah botol tanpa berhenti, hingga kemudian ia melepaskan mulut botol itu dari mulutnya, “Kau mau kopi?”

Jung Young menggeleng, ia menutup botol cola di tangannya kemudian menopang dagu di samping wastafel. Diam. Memperhatikan Daehyun yang mulai mencorongkan gelas pada kran, mengusapnya dengan spons, membilasnya. Ahh.. siapa yang pernah mengira bahwa main vocal BAP ini ternyata telaten melakukan pekerjaan rumah?

Merasa diperhatikan, Daehyun menatap Jung Young dengan ekor matanya, “Waey? Kenapa menatapku begitu?”

Jung Young mengedikkan bahu, “Kau bisa membuat apa saja dari kertas?”

Daehyun menoleh, “Membuat lirik lagu..”

“Ya! Maksudku Origami!” sungut Jung Young, “Kau bisa membuat bentuk apa saja?”

Jung Daehyun terkekeh kecil tanpa menoleh, ia membilas sebuah gelas, lalu menaruhnya di rak, “Everything you want..”

“Aku mau starbucks..”

Daehyun menoleh cepat, melotot pada sosok Jung Young yang meringis lebar, “Ishh… kau pikir aku bisa membuat kopi kertas?”

Jung Young tertawa kecil,

“Kalau begitu~” Gadis itu memutar matanya kali ini, ia mengambil sebuah kertas brosur di atas rak dapur dan menyodorkannya, “Buat apa pun dengan ini..”

“O~” Daehyun mengangguk cepat, ia mencuci tangannya lebih dulu dari busa sabun, kemudian meraih kertas itu. Perlahan ia mulai melipat-lipatnya dengan cekatan. Kadang-kadang membukanya lagi, membuat lipatan-lipatan baru di sisi lain. Hingga di tekukan terakhir, kertas itu sudah berubah menjadi sebuah bentuk yang manis. Bentuk hati.

“Yeppoda..” kagum Jung Young.

“It’s my heart..”

Jung Young mendongak menatapDaehyun, “For whom?”

Untuknya kah? Entah kenapa harapan itu tiba-tiba terbersit dalam benaknya. Mungkin ini hanya sebuah lelucon, tapi mungkin juga akan sangat menyenangkan saat mendengar itu dari mulut seorang Jung Young. Atau… atau mungkin hati itu malah untuk Hyosung? Mungkin kemungkinan kali ini lebih real. Dan entah Jung Young Seorim agak tidak suka dengan pilihan yang kedua itu..

Sementara Daehyun masih menimang-nimang origami di tangannya dengan penuh pertimbangan, “Eung~ Yoo Youngjae..”

Mata Jung Young membulat lebar, “Youngjae oppa? Waey?”

“Karena di otakku hanya ada Youngjae dan Himchan. Dan karena kupikir Himchan hyung itu tidak akan suka dengan hal manis macam ini, jadi… untuk Youngjae saja!”

“………”

“Waey?” Daehyun mencoba menahan tawanya saat melihat gadis itu memasang wajah blank dengan kedua mata menyipit tajam.

Jung Young mendengus, “Pemikiran macam apa itu?”

“Jadi kau lebih suka kalau aku memberikan hatiku pada Hyosung?” cletuk Daehyun, ia mentautkan kedua alisnya.

………

Dan Park Jung Young kembali merasakan hal itu lagi. Sebuah rasa tak nyaman setiap mendengar nama Hyosung. Tapi harusnya tidak begitu kan? Seorang sahabat harusnya merasa senang saat sahabatnya membicarakan kekasihnya, bukan? Ya, Daehyun adalah sahabat terbaiknya. Sahabat yang mungkin hanya ‘sedikit’ berbeda dengan Himchan. Sahabat yang…. ahh, entahlah.

Tanpa ingin berkecambuk lebih lanjut dengan pikirannya,  Jung Young mengembangkan senyum lebarnya detik itu juga, “Setidaknya jika kau memberikan hatimu pada Hyosung, artinya kau normal kan?”

“…….”

Jung Young meraih kembali sepiring kentang goreng di atas meja dapur dan berbalik pergi. Sementara dari arah wastafel, Daehyun tersenyum, menertawakan sekaligus membodohi dirinya sendiri. Ia senang menggoda Jung Young dengan menyebut nama Hyosung, karena dengan itu ia bisa melihat betapa Jung Young kesal dan cemburu. Tapi… disisi lain, tidakkah itu terkadang keterlaluan?

………….

“Ngomong-ngomong, Mr.Cola..”, Jung Young tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, “Terimakasih untuk teru-teru bozu, perahu, dan burung kecil..”

Daehyun mengangguk, “Kau suka?”

“Tidak. Aku membeci origami-origami itu, jadi aku menyimpannya..”, datar Jung Young.

Ia kembali ke ruang tengah yang sebenarnya masih satu ruangan dengan dapur mengingat kecilnya Dorm itu. Zelo masih tampak bermalas-malasan di sofa. Youngjae dengan rajin membersihkan kaca-kaca jendela. Jongup melipat baju yang berantakan. Sedang leader Yongguk masih saja serius dengan games mereka.

“Ahhh~”, Jung Young menghempaskan tubuhnya di sebelah Zelo. Ia menyandarkan kepalanya di pundak pria itu sambil terus melahap sepiring kentang goreng di tangannya.

Zelo menoleh kecil, “Waey?”

Jung Young menggeleng.

“Kukira kau membantu Daehyun hyung mencuci piring..” ia mencomot sebatang kentang dari piring Jung Young.

Jung Young melirik sinis dengan ekor matanya, “Maksudmu aku harus membantu mencuci piring sedang kau bersantai-santai disini, oppa?”

Zelo hanya tersenyum berkuasa.

“Youngiemouse~” panggil Young Jae, “Bisa tolong ambilkan vacum cleaner di gudang?”

Jung Young menoleh malas, “Aku sedang sibuk, Jae oppa..”

Young Jae berjengit mengamati Jung Young yang hanya tidur-tiduran di bahu Zelo sambil mengemil, “Sibuk mwoya?”

Jung Young meletakkan piringnya dan segera bangkit, “Aku mau bermain games!”

Sementara di pojok ruangan, Yongguk yang semula asyik dengan sebuah komputer dan joystick di tangan, mendadak tegang. Yongguk mendesah pasrah seolah tau takdir yang akan dihadapinya,

“Firasatku tidak enak..” kata Yongguk

“Waey?” tanya Zelo tanpa menoleh ke layar.

Yongguk menghela nafas, “Kupikir aku ak-…. ARRGGH!! YA!! Jung Young ! KENAPA KAU MENENDANG PANTATKU?”

Tanpa peduli, Jung Young –yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Yongguk-langsung mendorong-dorong tubuh Yongguk dan menggusurnya, “MINGGIR! Aku mau bermain games bersama oppa!”

***

Tinggg… tong…’

“Biar aku saja..” Zelo beranjak bangit dari lantai dan berjalan kearah pintu depan. Sedikit sadar diri saja, toh nantinya orang-orang pemalas di Dorm ini akan menyuruhnya juga untuk membuka pintu.

Baru beberapa detik, dan..

“Uri youngie eodiya?” sebuah suara memekik nyaring. Sisusul dengan sosok Key. menyeruak kedalam ruang tengah diikuti Jong Up yang mengekor dari belakang.

“I’m here!!” sahut Jung Young, mengangkat tangan kirinya yang bebas –sedang tangan kanannya masih fokus memainkan joystik dengan lincah-.

Himchan, Young Jae dan Zelo langsung tersenyum sumringah. Trio macan(?) itu langsung memasang aegyo manja mereka tanpa sadar, “KEY~”

Key tersenyum, ia langsung berhigh-five ria dengan ketika makhluk aneh itu, “Kalian baru pulang dari Shanghai?”

Himchan mengangguk, “Dan lusa kami sudah harus ke Singapore.”

“Woaahh.. kalian sudah menyaingi SHINee ya-_-?”

“Aniya~ bukan begitu..”, sangkalYoung Jae, tidak enak.

Key tertawa, “Ya! Kenapa kau ketakutan begitu? Santai saja..”, ia lalu beranjak mendekati Jung Young yang masih asyik dengan gamesnya bersama Yongguk.

“Yaishh… gadis nakal! Siapa yang mengajarimu menginap di Dorm dengan banyak pria, hah?”, dicubitinya kedua pipi Jung Young dari belakang.

“Oppa, kan?”

“Heh?”

Jung Young mem-pause gamesnya dan menoleh dengan wajah tanpa dosa, “Kan Oppa yang selalu memaksaku tidur di Dorm SHINee..”

“Oaahh… Keyyy~”

Key menengok ke arah sumber suara, dilihatnya Himchan, Youngjae, dan Zelo duduk bersila di atas sofa sambil memandang jahil kearahnya, “Ya! Kenapa kalian menatapku begitu?”

Belum sempat Key mengomel, pintu kayu di samping sofa tiba-tiba terbuka, seseorang keluar dari dalam sana. Seorang pria, dan ia langsung membungkuk sopan saat melihat sosok Key, “Ohh.. Hyung, annyeong haseyo~”

“Daehyun ahh, annyeong~”, balas Key, sedikit canggung, “Kau apa kabar? Kita jarang bertemu, ya?”

Daehyun tersenyum kikuk, “Ne..”

“Ahh… Bagaimana hubunganmu dengan Hyosung?” cletuknya.

Dan tiba-tiba saja Dorm menjadi hening. Atmosfer berubah seketika. Himchan, Youngjae, dan Zelo membeku di sofa dengan bola mata yang kompak melirik pada Daehyun. Jongup yang membawa nampan berisi minum dari arah dapur, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Yongguk dan Jung Young langsung terhenyak kaku, seolah tak peduli pada tanda ‘Game Over’ besar di layar komputer mereka..

Key berjengit bingung, “Ada yang salah?”

Daehyun menggeleng, ia mencoba menarik senyum kecil, “Aku dan Hyosung…. kami, baik-baik saja…”

***

Baby don’t leave me, I know you still love me..

Wae geurae soljikhi na malhae niga pilyohae my lay lay lay lay lady…

my lay lay lay lay lady..’

………………

Key mematikan Mp3 player mobilnya saat menyadari kondisi tak juga berubah. Park Jung Young masih saja merengut di kursinya sambil memain-mainkan sebuah rubik di tangan. Ada sesuatu yang salah sejak mereka keluar dari Dorm BAP beberapa saat lalu, tapi ia tidak tau apa itu.

“Aku salah?” tanyanya, bingung.

“Ani..”

Key melirik kecil sambil terus fokus pada jalan di depannya, “Memangnya kenapa dengan Daehyun dan Hyosung?”

“Molla~”

“Ya! Kau kenapa?”

“Gwaencha~”

Jawaban-jawaban singkat dari Jung Young sukses membuat Key frustasi. Akhirnya pria itu memilih bungkam mulut sambil sesekali melirik adiknya itu diam-diam. Hingga kemudian, ia melihat Jung Young tampak tersenyum kaget saat mengeluarkan sebungkus kertas lipat warna warni dari dalam tasnya.

“Ige mwoya?” Key mencoba mengintip.

Jung Young buru-buru memasukkan benda itu lagi kedalam tasnya, “Waey?”

Key melirik ingin tau, “Kenapa kau tiba-tiba terlihat bahagia sekali hanya karena sebungkus kertas lipat?”

“Biar saja~” desis Jung Young, gadis itu menghempaskan punggung ke kursi mobil dan memposisikan leher pada bantalan pikachunya.

“Ya! Youngie~ apa Oppa harus membelikanmu kertas lipat dulu agar kau berhenti tak mengacuhkan Oppa seperti ini?” dengus Key.

“……..”

Dan keadaan kembali hening beberapa saat kemudian. Key mencoba fokus pada jalan dan setir mobil, tapi tetap saja kadang-kadang ekor matanya menangkap gerak-gerik Jung Young. Adiknya itu tampak tersenyum-senyum kecil memandangi sesuatu di dalam tasnya. Boleh ia menebak apa itu? Sebungkus kertas lipat tadi!

“Ahhh.. Onew dan Taemin mengajakku bertemu di Studio..”, Key mengalihkan pembicaraan saat mobil berhenti karena warna merah pada lampu lalu lintas, “Kau mau ikut? Taemin bilang dia rindu sekali padamu..”

Jung Young menggeleng, “Aku mau ke apartement. Titip salam saja untuk mereka..”

***

Jung Young menyeruak masuk kedalam kamar dan mendudukkan diri di atas kursi komputer. Ia kembali membuka tasnya dan mengeluarkan sebungkus kertas lipat dari dalam sana. Dari Jung Daehyun… ia tau benar itu. Tapi kapan pria itu meletakkan benda ini di dalam tasnya? Entalah.. Yang jelas, di balik sikapnya yang kadang terlihat tak peduli itu, Jung Daehyun selalu punya kejutan-kejutan manis..

Jung Young melepas sepatunya dan beralih merebahkan tubuhnya keatas ranjang. Diangkat dan dibolak-baliknya sebungkus kertas lipat itu tinggi-tinggi. Terhenti di satu sisi, gadis itu trsenyum membaca note kecil yang tertempel di bagian depan sampul plastik..

…………………….

Hidup itu seperti origami.

Penuh lipatan-lipatan yang terkadang mudah dan terkadang sukar. Dan melalui lipatan-lipatan itu, kau bisa membuat bentuk apa pun yang kau mau..

Tapi saat bentuk-bentuk yang kau punya mulai rapuh, kau selalu bisa kembali ke awal.

Seberapa kusut kertas itu sekarang, seberapa banyak lipatan yang masih berbekas disana, dan seberapa tipis tiap sisinya saat ini. Kau masih bisa membuat bentuk yang baru untuk hidupmu. Asal kau yakin dan percaya, bahwa lipatan yang akan kau buat kali ini, akan lebih kuat dari lipatan-lipatan sebelumnya..

…………………….

Jung Young terhenyak. Mengena! Sebegitu bermaknakah bentuk-bentuk kertas yang terlihat sederhana itu? Kenapa tiba-tiba terasa hangat dan sesak sekaligus? Kenapa ia seolah-olah merasa tersindir dengan setiap kata yang tertulis dengan tinta biru itu? Dan satu hal yang paling tak ia mengerti, kenapa senyumnya tiba-tiba terkembang bersamaan dengan perih yang pelan-pelan mulai terasa?

Gamang…

Jung Young mencoba mengangkat punggungnya yang terasa rapuh itu dan beranjak mendudukkan diri, bersila di atas ranjang. Saat matanya mengerjap sesaat, ia bisa melihat banyangan samar yang terlintas, tersenyum kearah pria itu..

“Kenapa harus begini?”, suara dari bibir tipis itu terdengar parau, “Sei, apa aku harus terus mempertahankanmu di hatiku dan menjaga semua memory itu agar tak semakin rusak? Atau membiarkan rasa lain menerobos masuk menggantikanmu?”

Tangannya kemudian terulur, mengambil selembar dari sebungkus kertas lipat itu. Sebuah kertas berwarna orange. Jung Young kemudian mulai melipatnya pelan-pelan, begitu hati-hati. Ia tak berfikir lebih dulu untuk memilih sebuah bentuk, karena dari dulu hanya ada satu bentuk yang bisa dibuatnya.

Selesai. Jung Young tersenyum memandangi bentuk yang berhasil dibuatnya. Sebuah bentuk yang memang terlihat tak begitu sempurna. Ya, tak sesempurna waktu itu. Tak sesempurna kala ia membuatnya bersama peria itu.

Sebuah kamera kertas…

………………………………….

………………………………….

Bukan begitu, Jung Young Park!” Donghomendengus kesal. Ia merebut bliter camera dari tangan Jung Young dan mengutak-atiknya.

Jung Young mendengus, memasukkan kedua tangannya kedalam saku mantel, “Kukira memakai detlic effect akan lebih bagus, Sei Arakawa…”

Dongho terkekeh, di rangkulnya pundak Jung Young dan dikecupnya puncak kepala gadis itu dengan cepat, “Kau tidak bisa selalu mengira-ngira, Jung Young. Lagi pula, untuk menjadi fotografer Nolde Magazine tidak hanya cukup dengan insting, kan?”

Jung Young mengangguk-angguk kecil. Sambil terus melangkah dalam rangkulan Dongho, ia mengalihkan pandangan pada toko-toko tua crase di sepanjang jalan Marcco street, Slagelse. Ia menyukai jalan-jalan setapak berbatako hitam yang memisah toko-toko tua itu. Ia menyukai beberapa kincir angin kecil yang terpasang di tepi jendela-jendela kayu tiap rumah, juga beberapa Eranthis yang tumbuh liar di akhir musim dingin seperti ini..

Kenapa? Kau menyukai semua keindahan Denmark, kan?” tegur Dongho.

Jung Young mengangguk, “Tapi aku lebih menyukai berada di samping Shin Dongho, melebihi apa pun..”

Heh?”

Mungkin itu yang membuatku tak bisa memotret dengan baik..”, tambah Jung Young, ia menoleh pada sosok Dongho yang masih berjengit bingung, “Seindah apa pun sebuah objek yang kulihat, aku tak akan bisa memotretnya dengan baik kecuali objek itu adalah kau..”

Dongho langsung menjitak gadis itu dengan gemas, “Ck, bagaimana bisa seperti itu?”

Jung Young tertawa kecil, ia merangkulkan kedua lengannya di pinggang Dongho dan mulai bermanja-manja dengan pria itu. Keduanya berjalan menyusuri jalanan Slagelse yang mulai ramai di akhir musim dingin ini. Tak begitu lama, karena Dongho kemudian menghentikan langkahnya di depan sebuah kursi kayu panjang di bawah pohon mapple. Daehyun membersihkan tumpukan salju yang mengotori kursi itu. Ia lalu melepas mantelnya, menggelar kain tebal itu sebagai alas dan membiarkan Jung Young duduk di atas sana.

Nah, sekarang coba ini..”

Jung Young hanya menyipit bingung saat pria itu tiba-tiba menyodorkan sesuatu kearahnya, “Kertas?”

Dongho mengangguk, “Kita akan membuat origami, Raisly..”

Lalu sepi sejenak. Dan secara begitu saja, terjadilah les private romantis, membuat origami di bawah pohon mapple.Dongho mulai melipat-lipat kertas di tangannya dengan perlahan, sedang Jung Young mengikuti dengan cermat. Ya, ini kali pertama. Gadis itu tidak pernah membuat Origami sebelumnya. Tidak, kecuali saat ia berada di TK dulu, dan itu sudah lama sekali..

Mungkin terdengar childish, tapi di Tokyo dulu, Mom selalu mengajariku membuat Origami..”, Dongho membuka suara sambil terus melipat kertasnya pelan-pelan, “Beliau bilang, bentuk-bentuk dari sebuah kertas itu punya aura positif yang akan membuat kita tersenyum dan percaya..”

Jung Young menanggapinya dengan senyum, “Sei, kurasa beliau benar..”

Kembali hening beberapa saat, hingga tak lama kemudian, sebuah Origami camera sudah berada di tangan mereka masing-masing..

Jung Young tersenyum bangga, “See? Ini pertama kali, dan aku bisa membuatnya dengan sempuran..”

Dongho terkekeh, ia merapikan poni Jung Young dan membersihkan daun-daun mapple yang mulai jatuh membasahi rambut coklat gadis itu, “Lain kali kau harus belajar membuat Origami lain selain bentuk camera..”

Kau akan mengajariku?”

Dongho menggeleng cepat, “Kau harus belajar dari orang lain! Jika kau terus belajar dariku, kau tidak akan maju..”

………………………………….

………………………………….

Jung Young tersenyum menyambut kenangan itu, seiring dengan cairan bening yang mulai menggenang di pelupuk matanya, “Jadi.. selain kau, aku harus belajar pada siapa?”

“Jung Daehyun?”, bisiknya kemudian, seolah menjawab pertanyaannya sendiri, “Tapi dia sudah punya seseorang..”

Dan bayangan Hyosung mulai berkelebat dalam otaknya. Ia masih bisa mengingat dengan jelas, betapa Daehyun terlihat bahagia saat menyebut nama Hyosung di depannya. Ia masih mengingat jelas bagaimana pria itu tersenyum malu saat setiap acara membahas hubungannya dengan Hyosung. Ia masih mengingat jelas bagaimana tadi pria itu menjawab pertanyaan kakaknya dengan begitu mudah..

………

Aku dan Hyosung…. kami, baik-baik saja…’

………

“Kau tau, Dongho?” lirihnya, dan cairan hangat bernama air mata itu mulai mengalir pelan,“Mungkin, aku bukan satu-satunya yang ia ajari tentang bentuk-bentuk kertas itu. Mungkin, aku bukan satu-satunya ia sayangi seperti itu. Mungkin, aku bukan satu-satunya yang ia peluk dalam dekap hangat itu. Dan mungkin, aku bukan satu-satunya yang membagi setengguk cola dingin untuknya seperti kali-kali itu..”

Jung Young menyeka kasar air matanya dengan punggung tangan, kemudian tersenyum. Stop it! Ia tidak ingin menangis lagi, sungguh. Ia gadis yang kuat, dan harus selalu menjadi kuat. Menjijikan sekali jika gadis cablak yang suka seenaknya sendiri sepertinya itu ternyata selalu menangis diam-diam kan?

“Dongho…”, panggilnya. Sepasang mata coklatnya kembali mengarah pada sebuah kamera kertas di atas ranjang, “Saat aku menemukan seseorang yang bisa mengajariku seperti kau… kenapa dia sudah lebih dulu memiliki orang lain?”

trrettt… tretttt…’

Getaran kecil itu seolah menjawab pertanyaannya. Jung Young melirik kearah ponselnya yang bergetar di tepi ranjang. Diraihnya benda tipis itu dengan enggan, dan dilihatnya sekilas nama ‘Idiot Maknae’ yang menyala-nyala di atas layar. Jung Young kembali menggosok-gosok mata dan pipinya dengan kasar, menarik nafas panjang dan menghembuskannya sebelum kemudian menekan tombol jawab pada ponsel,

“Jello oppa… waeyo?” sapanya, datar.

Dongsaeng..”

“Yak! Kenapa kau menelfonku? Aku sedang sibuk!”, potong Jung Young, mencoba ketus.

Terdengar desahan berat, “Dongsaeng..”

“Aku sedang membuat Script, Jello oppa! Ahhh.. Ya, katakan pada Daehyun, bajuku tertinggal disana! Minta dia cucikan bajuku atau di-”

“Dongsaeng, apa kau menangis?”, serobot suara di seberang tiba-tiba.

Jung Young tersentak, “Heh?”

Eerrr… Kalau kau sedang menangis, teruskan saja..” nada Zelo di seberang terdengar mengambang,

Jung Young kembali menyeka kasar air matanya yang tiba-tiba saja keluar, “Yak! Kau bicara apa, sih? Aku baik-baik saja!”

“Sasha shi...”, suara Zelo terdengar lebih pasti kali ini, “Ketika kau merasa sangat sakit, jangan alihkan perhatianmu, dan jangan bertegar bahwa kau baik-baik saja. Menangislah, rasakan tiap jengkal perih dan sesaknya pelan-pelan, karena rasa sakit itu akan mebuatmu semakin dewasa..”

……”

Jung Young terhenyak. Ia tidak tau perasaan macam apa yang dirasakannya saat ini. Setiap kata yang ia dengar dari Zelo beberapa saat lalu itu tiba-tiba menyerangnya. Kenapa? Apa ia sudah tak bisa menyembunyikan sesaknya sesempurna dulu? Apa topengnya sudah terlalu rapuh hingga orang-orang itu perlahan bisa mengetahui sisi lemahnya? Atau ia yang terlalu memaksakan diri untuk terlihat kuat?

Jung Young menurunkan benda tipis itu dari telinganya,

“…….”

Dongsaeng? Yoboseyo?”

“…….”

***

“Bunny? Yoboseyo?”

“……”

“Waey?” Daehyun mengernyitkan dahinya.

“Dia mematikkan telfonnya..” sahut Zelo, ia menurunkan ponselnya di samping telinga, “Sudah kan?”

Daehyun mengangguk-angguk kecil. Ia merangkulkan lengannya di pundak sang magnae, “Gomapta~”

Zelo hanya tersenyum, “Omong-omong, kenapa hyung tidak menelfonnya sendiri saja, sih?”

“Aku…” kalimat itu menggantung, Daehyun memutar matanya, mencoba mencari kata yang tepat. Entahlah, ia hanya tidak ingin terlihat terlalu peduli dan sok tau tentang gadis itu. Dia hanya tidak ingin membuat Jung Young semakin bingung.

Jika gadis itu memang belum bisa melupakan Dongho, maka ia akan tetap menunggu. Menunggu tanpa mencoba merebut hati gadis itu dengan perhatian-perhatiannya. Karena itu akan sangat menyakitkan, bukan? Jung Young sudah cukup rapuh dengan pikiran-pikiran tentang Dongho, dan ia tak ingin semakin membebani gadis itu lagi dengan perasaannya.

“Hyung… Waey?”, kejar Zelo, membuyarkan pikirannya.

Daehyun menghela nafas pendek, “Aku… Hanya tidak ingin bicara dengan gadis yang sedang menangis..”

Zelo berjengit bingung.

“Ahhh… aku harus ke KBS!” pekik  Daehyun tiba-tiba. Ia melepaskan rangkulannya pada Zelo dan buru-buru melirik arloginya, “Yongjae tidak bawa mobil dan aku harus menjemputnya dari KBS Hall..”

“Tapi hyung, kenap-”

“Ahh.. Youngjae pasti sudah menunggu. Aku pergi dulu! Annyeong~” potong Daehyun, ia beranjak keluar dan segera menutup pintu.

“Kenapa hyung yakin sekali dia sedang menangis?” teriak Zelo kearah pintu kamar yang sudah tertutup rapat.

Sementara di luar, Daehyun tersenyum kecil, punggungnya masih bersandar di depan pintu kamar Zelo, “Karena kadang, aku lebih bisa mengerti gadis itu daripada mengerti diriku sendiri.. apa yang harus kulakukan??”

Daehyun pus segera berlari ke lift, dan ternyata liftnya sedang rusak. Daehyun berlari menuruni tanggal dengan cepat, dan menghapiri Taxi didepan apartemnt. Di dalam Taxi Daehyun mengirim pesan ke Youngjae

“Yongjae-a mianhe aku tidak bisa menjemputmu, ada hal penting yang harus keselesaikan. Maafkan aku”

“huh~” Daehyun mendesa.

“Apa yang harus kulakukan jika ia tidak menerima ku?? Bagaimana jika dia membenciku?? Bagaimana jika ia sakit karna ku??” Daehyun berbicara dalam hatinya

“Babo-ya! Babo-ya!” Daehyun sambil memukul kepalanya,

Supir Taxi menanyakan “Apa kau baik-baik saja??”

“Tidak terlalu baik” Daehyun membalas datar.

Daehyun pun turun dari taxi lalu ia berlari tanpa mengambil uang kembaliannya, ia naik lift dan tiba di lantai 11. Ia pun langsung menuju ruang appartement Jung Young.

“Jung Young-a, Jung Young-a!! Buka pintumu ini aku Daehyun” Daehyun memukul-mukul pintu apartement Jung Young.

Di dalam kamar Jung Young terkejut Daehyun datang. Jung Young pun langsung menghapus air matanya dan dia berjalan ke pintu.

“Ya, ada apa oppa?? Kau mau mengantarkan bajuku yang tertinggal?? Wah, cepat sekali?” Jung Young

Daehyun langsung mendorong Jung Young masuk dan mengunci pintu apartement.

“Oppa, apa yang mau kau lakukan??” Jung Young sedikit ketakutan.

Daehyun semakin mendekati Jung Young.

“Oppa! Oppa! Hajima! Oppa, pikirkan Hyosung!” Jung Young semakin ketakutan

“Hyosung?? Kenapa kau selalu mengingatkanku padanya??” Kata Daehyun dengan wajah serius.

“Maksudmu oppa??” Jung Young

“kita berdua sama! Sama-sama meninggalkan orang yang kita sayangi!” Daehyun

“Huh?” Jung Young

“Aku dan Hyosung sudah tidak berhubungan lagi, aku memutuskannya karna dia kurang cocok untukku! Dia terlalu dewasa untukku!” Daehyun mengeluarkan puppy eyesnya.

“Jadi oppa dan Hyosung sudah tidak berpacaran lagi??” Jung Young terkejut

“Kenapa? kau suka itukan??” Daehyun secara frontal

“Aniya~” Jung Young sedikit malu-malu.

“Aku tahu!” Daehyun

“Tahu?? Tahu apa??” Jung Young

“Aku tahu kau mencintaiku!” Daehyun

“Huh?? Kenapa kau begitu yakin?? Bagaimana jika aku menyukai Zelo??” Jung Young

“Zelo?? Aku tahu kau dan Zelo dekat kalian berteman dekat!” Daehyun

“Itu hanya dari pandanganmu saja oppa!!” Jung Young

Tiba-tiba Daehyun mendekati Jung Young dan memegang kedua tangannya, Natasha keliatan semakin tegang.

“Ayolah, kau tidak bisa menipu perasaanmu! Cinta tidak bisa dipaksakan atau memaksakan! Aku tidak bisa memaksakan Hyosung untuk tidak mencintaiku lagi, dan aku tidak bisa memaksamu untuk melupakan Dongho sepenuhnya!” Daehyun berbicara begitu dewasa

“Oppa…” Jung Young

“Aku hanya ingin jujur padamu! AKU MENCINTAIMU! Saat kau menginap di dorm kami, kau tahu aku tidak tidur demi menjagamu agar Zelo, Himchan, Youngjae, dan Jong up tidak mengganggumu saat tidur! Selama menjagamu saat kau tidur, aku membuat kertas origami dengan tulisan romantis untuk mu! Hanya untukMu! Kau juga harus tau, demi bisa mendapatkan hatimu aku belajar membuat bentuk-betuk kertas origami!” Daehyun

Jung Young merintihkan air matanya dan membukukkan wajahnya.

“Jung Young-shi gwencana??” Daehyun sambil melihat Jung Young. Dia sedikit tersenyum.

“Jung Young-ah! Uljima! Keep smile baby!” Daehyun tersenyum dan memeluk Jung Young.

Jung Young pun berhenti menangis

“Oppa! Apa mau mu??”

“Aku?? Aku ingin kau melupakan Dongho dan menjadi milikku selamanya! Tapi aku tidak memaksakanmu!” Daehyun sambil tersenyum

“Melupakan Dongho?? Apa kau juga cemburu terhadapnya?” Jung Young mulai mengaco

“Aku tidak cemburu padanya hanya saja aku ingin kau kembali bahagia seperti dulu, mungkin aku tidak seterkenal Dongho, seimut Dongho, selucu Dongho, tapi Aku adalah Daehyun yang akan selalu menyangimu!” Daehyun

“Oppa! Kau benar-benar mengagumkan! Jujur aku memang mencintaimu, aku juga cemburu saat wajahmu berubah ceria saat berbicara tentang Ghyosung! YA~ IYA! Aku mau menjadi milikmu selamanya!” Jung Young mulai memancarkan senyumnya.

“Benarkah?? Aku belum memintamu menjadi pacarku!” Daehyun

“Mwo???” Jung Young menatap sinis Daehyun

“Ayo iku dengan ku! Jangan tanya kemana, hanya ikut denganku!” Daehyun

“Baiklah!” Jung Young

“Kunci mobil Key hyung mana??” Daehyun

“di meja dapur!” Jung Young

“Ouh~ baiklah!”

Daehyun dan Jung Young berjalan menuju suatu tempat. Dan ternyata mereka pergi ke Namsan Tower, tempat itu begitu sepi, suasana begitu dingin.

“Namsan?” Jung Young

“Hmm~ mungkin tempat ini tidak sama persis dengan di Denmark saat kau bersama Dongho tapi ditempat ini aku ingin memintamu menjadi kekasihku, dan aku berjanji akan menjaga dan setia padamu!” Daehyun

“Oppa~ kau begitu romantis! Mungkin benar tempat ini tak indah seperti yang di denmark, tapi aku minta stop bicara tentang Dongho! Kau hanya membuatku mengingatnya kembali! Dan tolong jangan membanding-bandingkan dirimu dan dongho! Karena kalian berdua berbeda! Dan kau tahu? Hari ini hari yang begitu gembira! Karena aku telah mendapatkan pengganti dirinya! Gomawoyo JUNG DAEHYUN!” Jung Young

Deahyun tersenyum sipu, dan tiba-tiba Daehyun mencium bibir Jung Young, Jung Young terlihat shock dan ia mencoba tenang. Daehyun melepaskan bibirnya dari bibir Jung Young.

“Maaf aku lancang! Tapi ini sebagai bukti kau sudah menjadi milikku selamanya!” Daehyun

“Tidak apa-apa oppa~ janjikah kau akan setia menungguku sampai umur diatas 26 tahun untuk menjadikanku istrimu?” Jung Young

“Aku berjanji Hubby” Daehyun

“Hubby?? Hmm~ baiklah Bunny” Jung Young

Daehyun memegang tangan Jung Young dan mereka jalan-jalan bersama di taman.

Daehyun:

“CINTAKU SEPERTI KERTAS ORIGAMI! YANG TERLIHAT LUCU DAN INDAH! WALAUPUN SUDAH DILIPAT-LIPAT TIDAK RUSAK-RUSAK YANG MENGARTIKAN WALAUPUN SUDAH MERASA DISAKITI TAPI AKU TETAP BERTAHAN.”

Jung Young:

 Hope that everything is a dream, that everything is a lie

Saying I’m sorry, saying be well, don’t say anymore

(I already know) You’re not going to comeback

(Even though I know) But I’ll still wait for you

Like a dream I have met you, like a dream we loved

Our love was as happy as a dream

Like a dream you have appeared, like a dream you have left

Comeback to me again, since I’ll be waiting here for you

My throat keeps clogging so I couldn’t say anything

Because your two eyes didn’t look at me but looked away from me

(I can’t yet) I can’t let you go

(Even now) I’m crying because of you

None of this happened, this is all a dream, that is what I wanted to believe

I miss you, I love you, I want to tell my heart to you

but that was then, now I have foundhim! I hope you’ll be happier without me!

THIS IS MY LOVE”

 

-END-

 

“Careless Careless! Shoot Anymous anymous! Heartless mindless! No one care about me!”

Ini enggak sepenuhnya karyaku! aku sedikit dibantu oleh beberapa ff^^


MISS-U will make a press con after final their national exams! ^o^

Natasha Diary?

"Hope that everything is a dream, that everything is a lie
Saying I’m sorry, saying be well, don’t say anymore”

i know~ You’re not going to comeback! eventhough i know that, But I’ll still wait for you!”

"Like a dream I have met you, like a dream we loved~ Our love was as happy as a dream!"

"My throat keeps clogging so I couldn’t say anything~ Because your two eyes didn’t look at me but looked away from me!"

"*i cant yet~* i cant let u go! *even now* im crying bcz of u!"

"None of this happened, this is all a dream, that is what I wanted to believe~ I miss you, I love you, I want to tell my heart to you!"

cr: Natasha twitter

Natasha: Wanna be… SUPERSTAR!

MISSU is SUPERSTAR!!!

Natasha Diary?

"my friends made me cant let him go!!!"

"they called him with words ‘uri chagia’ I honestly, im not jealous!! but…"

"i cant stop thingking about him, if my friend always reminds me of him!!! ><"

"urgh~ they suck!!! ><"

cr: @doubleN98

[!!]

Dv jealous with Natasha???

Natasha who became crazy because of Yulia said I’m not wacth CINTASALSABILA but i watch CINTASASHAGIKWANG make Dv upset.
Dv: "Hey ~ you're nobody for gikwang!
NJ: "So what?”
Y: "Hey~ it just a sinetron!
NJ: "are you envy?
DV: Yeah I’m jealous!
it does mean Dv likes Gikwang???

Triangle love will be happend MISSME!! :D

Funny Moment

In School~~

Talk about indonesia sinetron.

S1: have you ever watch a sinetron Indonesia?

S2: yes ~ I’m watching ‘CINTASALSABILA’ what about you?

S1: ‘PUTIHABUABU!

Yulia suddenly spoke “I don’t watch CINTASALSABILA, but I’m watching CINTASASHAGIKWANG

Natasha going crazy!! LOL funny leader ^o^

MISSU Schedule

April 2, 2012 they just school! Today they will have a exam.

@YoungGirls97 Why you not school today girl?? MISSME so worried.